6 Contoh Cerita Fabel, Kisah Hewan yang Punya Banyak Pesan Moral | Bahasa Indonesia Kelas 7

Sejak kecil, kamu pasti sering dibacakan cerita atau membaca sendiri cerita anak-anak dengan tokoh hewan. Beberapa cerita hewan ini hingga sekarang masih teringat di benakmu, termasuk cerita si Kancil, Kura-kura, Monyet yang rakus, atau kisah Tiga Babi KecilNah, tahukah kamu kalau cerita hewan yang kamu tahu itu disebut dengan fabel?

Fabel secara etimologis berasal dari bahasa latin fabulat. Fabel merupakan cerita tentang kehidupan hewan yang berperilaku selayaknya manusia pada umumnya, seperti dapat berbicara, berpikir, hingga berpakaian. Oleh karena itu, fabel termasuk dalam cerita fiksi.

Meski demikian, fabel tidak sepenuhnya dikategorikan sebagai cerita rekaan belaka, loh! Hmm … kenapa, ya? Karena karya sastra sendiri ‘kan bentuk representasi kehidupan manusia.

Jadi, sudah pasti kisahannya pun merupakan implementasi dari kehidupan manusia sehari-hari, baik itu aktivitasnya maupun pola pikir manusia sehingga tidak jarang beberapa karakter manusia sering tampak dalam kisah-kisah fabel.

Baca juga: Memahami Pengertian dan Unsur-Unsur Teks Cerita Fantasi

Misalnya, tokoh hewan dalam fabel memiliki karakter positif identik digambarkan suka menolong, rajin, sopan, dan jujur, sedangkan tokoh hewan berkarakter negatif suka mencuri, culas, hingga sombong. Dengan demikian, dapat disimpulkan kalau fabel itu karya fiksi yang menggambarkan kehidupan manusia, tetapi tokohnya hewan.

Dengan membaca cerita fabel, kamu dapat belajar memahami sifat dan karakter orang-orang di sekitarmu. Cerita fabel bisa dijadikan sarana yang potensial untuk menggali nilai-nilai moral dan dipraktikkan dalam kehidupan karena memiliki segudang pesan moral yang dapat diambil sisi positifnya oleh pembaca.

Oleh sebab itu, ‘tak heran kalau fabel pun kerap disebut sebagai cerita moral karena pesan-pesan di dalam ceritanya. Kamu sendiri bisa loh, belajar dan mencontoh karakter yang baik dari tokoh-tokoh binatang yang tergambar dalam cerita fabel ini, teman-teman.

 

 

Contoh Cerita Fabel Singkat

Nah, setelah mengetahui apa itu fabel dan ciri-cirinya, saatnya kamu tahu beberapa contoh cerita fabel singkat dan pesan moral yang dapat diambil. Yuk, dibaca kisah para hewan berikut ini!

 

1. Contoh cerita fabel tentang Belalang Sembah

 

Belalang Sembah 

Suatu hari di sebuah kebun anggur, tinggalah keluarga Semut yang jumlah anggotanya sangat banyak. Semut ini membangun sarangnya dari daun-daun yang direkatkan menggunakan cairan, seperti lem yang mereka keluarkan dari mulut. Para Semut melihat bahwa musim gugur akan segera berlalu dan musim dingin yang cukup panjang akan segera datang. Ketika musim dingin makanan akan sangat sulit didapatkan maka para Semut itu segera mencari berbagai makanan untuk mereka kumpulkan sebagai bahan persediaan ketika musim dingin tiba.

Berbeda halnya dengan seekor Belalang Sembah, Belalang Sembah memiliki mata yang besar dan tangan yang panjang. Mereka sering hidup di pohon-pohon seperti halnya para Semut. Ketika musim dingin akan tiba, Belalang Sembah hanya berlatih menari setiap hari.

Sang Belalang lupa bahwa dia harus mengumpulkan makanan untuk persiapannya menghadapi musim dingin.

Baca juga: Cerita Fabel & Legenda: Pengertian, Ciri, dan Contoh

Suatu hari sang Belalang Sembah menari di dekat sarang Semut. Dia menari dengan sangat anggun. Gerakan tangan dan badannya yang pelan dan lembut membuat tariannya terlihat sangat mengagumkan. Para Semut melihat sang Belalang Sembah menari, tetapi mereka tidak menghiraukan tarian indahnya itu karena mereka memiliki tugas yang sangat penting.

Sang Belalang yang sedang menari melihat para Semut berjalan dengan membawa makanan untuk dibawa ke sarangnya. Sang Belalang Sembah heran dengan apa yang dilakukan Semut lalu dia bertanya kepada salah satu Semut tentara yang sedang berjaga di dekat para Semut pekerja.

“Kenapa kalian membawa makanan yang sangat banyak itu masuk ke sarang kalian?” sang Semut menjawab, “Kami melakukannya agar kami tidak kelaparan saat musim dingin tiba.” Lalu sang Belalang kaget, “Musim dingin?” kata sang Belalang Sembah dengan kagetnya, “tenang aja masih lama, lebih baik kita bersenang-senang saja dulu,” kata sang Belalang. Semut tak menghiraukan Belalang. Semut tetap tekun mengumpulkan makanan.

Musim dingin tiba. Belalang belum sempat mengumpulkan makanan karena sibuk menari. Belalang kelaparan dan lari ke rumah Semut. Ia meminta makanan kepada Semut. Semut awalnya tidak mau memberikan makanannya karena takut kehabisan. Akan tetapi, melihat belalang lemas kelaparan, Semut tidak tega dan memberikan makanannya kepada Belalang. Belalang pun kembali bugar dan dia berjanji untuk dapat mengelola waktu dengan baik sehingga tidak berakibat buruk. Masa depan adalah milik setiap orang. Maka setiap orang perlu menyiapkan masa depannya dengan berusaha. Bukan hanya menikmati kesenangan di masa sekarang tanpa memikirkan masa depan.

 

Pesan Moral: Kelola waktu dengan baik untuk mempersiapkan masa depan. Tidak ada yang menjamin kesulitan tidak akan datang, jangan menyia-nyiakan waktu hanya untuk bersenang-senang.

 

2. Contoh cerita fabel tentang Persaudaraan

 

Sesama Saudara Harus Berbagi

Suatu pagi indah dengan matahari yang cerah, Pak Tua Rusa mengunjungi kediaman keluarga Pip si Tupai di sebuah desa.

“Pagi, Ibu Tupai,” salam Pak Tua Rusa kepada Ibu Pip. “Kemarin, keponakanku mengunjungiku. Dia membawakan oleh-oleh yang cukup banyak. Aku ingin membaginya untuk para sahabatku. Ini kacang kenari spesial untuk keluargamu.”

“Terima kasih, Pak Tua Rusa,” ucap Ibu Pip.

Sepeninggal Pak Tua Rusa, Ibu Pip masuk ke dalam rumah dan memanggil anak-anaknya. “Anak-anak, lihat kita punya apa? Kalian harus membaginya sama rata, ya.”

“Asyiiik,” girang Pip dan adik-adiknya.

“Ibu taruh sini, ya.”

Setelah itu, Ibu Tupai mengurus rumah kediamannya. Sementara itu, adik-adik Pip ingin mencicipi kacang itu.

“Ini aku bagi,” kata Pip.

Dari sepuluh butir kacang, dia memberi adiknya masing-masing dua butir.

“Ini sisanya untukku, aku ‘kan paling besar.”

“Tapiii … Ibu ‘kan pesan untuk membagi rata,” kata Titu, salah satu adik kembar Pip (diiringi tangisan Puti) kembar satunya.

Mendengar tangisan Puti, Ibu Pip keluar dan bertanya. Sambil terisak, Puti menceritakan keserakahan kakaknya. “Tak boleh begitu, Pip. Ibu tadi sudah bilang apa,” tegur ibu Pip.

“Kamu tidak boleh serakah.”

“Tapi Buuu, aku ‘kan lebih besar. Perutku juga lebih besar,” sanggah Pip.

Ibu Pip berpikir sejenak, “Baiklah, Pip. Kamu memang lebih besar. Kebutuhan makanmu juga lebih banyak. Tapi, kalau cuma menurutkan keinginan dan perut, kita akan selalu merasa tidak cukup.”

“Kalau begitu, Ibu saja yang membagi, ya? Memang tidak akan memuaskan semuanya. Ini, Ibu beri empat untukmu, Pip, karena kau lebih besar dan si Kembar kalian masing-masing mendapat tiga.”

“Kalian harus mau berbagi ya, anak-anak walaupun menurut kalian kurang, ini adalah rezeki yang harus disyukuri,” lanjut Ibu Pip.

“Berarti enak dong, Bu, jadi anak yang lebih besar. Selalu mendapat lebih banyak,” iri Puti.

“Ya, tapi perbedaannya ‘tak terlalu banyak, kan? Lagipula kakakmu memiliki tugas yang lebih banyak darimu. Dia harus mengurus rumah dan mencari makan. Apa kau mau bertukar tugas dengan Kak Pip?” tanya Ibunya.

Puti dan Titu membayangkan tugas-tugas Pip. Lalu mereka kompak menggeleng.

“Nah, begitu. Sesama saudara harus akur ya, harus berbagi. Jangan bertengkar hanya karena masalah sepele,” kata Ibu Pip. “Iya, Bu,” angguk Pip.

“Yuk, kita makan kacangnya bersama,” ajak Pip pada kedua adiknya. Ibu Pip tersenyum melihat anak-anaknya kembali rukun.

Pesan Moral: Jangan serakah dan harus mengingat orang lain. Selain itu, dengan saudara juga harus akur dan saling berbagi.