Apa Perbedaan Objektif dan Subjektif? Yuk Cari Tahu di Sini!

Objektif dan Subjektif

Apa ya perbedaan objektif dan subjektif? Bagaimanakah sikap objektif dan subjektif? Mari kita cari tahu bersama, Sobat Zenius!

Objektif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), objektif adalah mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Sikap objektif adalah sikap yang lebih pasti, bisa diyakini keabsahannya, tapi bisa juga melibatkannya.

Sikap objektif wajib dimiliki oleh seorang peneliti. Seorang peneliti harus dapat memisahkan antara fakta dan pendapat pribadi.

Dengan hal seperti itu, peneliti mampu menghasilkan simpulan yang sesuai berdasarkan fakta dan tidak ada campuran pendapat orang lain yang bersifat subjektif.

Objektivitas atau objektif dalam keilmuan diartikan sebagai upaya untuk menangkap sifat alamiah atau empiris pada objek penelitian. Diteliti dan dipelajari dengan suatu cara yang tidak bergantung pada fasilitas apapun dari subjek yang menyelidikinya.

Keobjektifan harusnya tidak berpihak, di mana sesuatu yang ideal dapat diterima oleh seluruh pihak, karena pernyataan yang disajikan bukan didasari oleh asumsi, perkiraan, prasangka, ataupun nilai-nilai yang ada pada subjek tertentu. Semua didasari oleh fakta dan dapat dipertanggungjawabkan melalui data.

Subjektif

Segala sesuatunya harus dapat dibuktikan, sesuai fakta dan dilampirkan bersamaan data merupakan sikap yang bersifat objektif, lawan katanya adalah subjektif.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), subjektif adalah  pandangan atau prasangka sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya.

Subjektif adalah sebuah sikap yang mengacu kepada keadaan di mana seseorang berpikiran relatif, hasil dari menduga-duga, sangkaan, perasaan serta selera.

Suatu sikap yang berdasarkan pada pandangan atau perasaan pribadi mengenai suatu hal merupakan sikap yang bersifat subjektif.

Sebaiknya seorang peneliti menghindari sikap ini karena data dan fakta tidak diperkenankan bercampur dengan pendapat atau perasaan pribadi. Menghindari sikap yang tidak objektif atau tidak dapat dipertanggungjawabkan kefaktualannya serta keabsahannya.

Apa Perbedaan Objektif dan Subjektif?

Sobat Zenius, di atas kan sudah gue jelaskan definisi dari objektif dan subjektif. Sekarang gue akan share perbedaan objektif dan subjektif, nih. Antara lain:

  • Pernyataan atau sikap bersifat objektif haruslah dilandasi pemikiran yang realistis, berdasarkan fakta yang terjadi. Sementara pernyataan yang bersifat subjektif didasari oleh landasan berpikir seseorang, dari opininya yang lantas dijadikan tolok ukur terhadap suatu peristiwa ataupun informasi.
  • Pengambilan keputusan yang bersifat objektif memiliki tujuan agar keputusan yang dipilih benar-benar tepat, dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak merugikan siapapun. Sedangkan, keputusan subjektif cenderung memunculkan keberpihakan terhadap sesuatu.
  • Perbedaan objektif dan subjektif selanjutnya. Objektif memiliki sudut pandang yang mencakup kondisi asli yang terjadi pada sebuah peristiwa, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sementara, subjektif memiliki sudut pandang pribadi terhadap sebuah peristiwa yang diinformasikan, sehingga terkadang tidak dapat terjamin keabsahan dan akurasinya sebab sudah tercampur dengan opini pribadi.
  • Perbedaan objektif dan subjektif keempat adalah dampak yang dapat terjadi dari pernyataan subjektif dan objektif juga sangat berbeda. Pernyataan objektif akan memberikan dampak yang baik, menambah wawasan karena dibuktikan dengan data. Sementara pernyataan subjektif bergantung pada kondisi, dapat menimbulkan masalah baru karena terlalu banyak mencantumkan opini pribadi di dalamnya.
  • Perbedaan objektif dan subjektif terakhir adalah sikap objektif biasanya identik dengan diksi pendukung seperti: pasti, benar, tidak benar, dan kata-kata penegas lainnya tanpa ada keraguan terkandung di dalamnya. Hal ini tentunya jauh berbeda dengan sikap subjektif yang biasanya menggunakan diksi pendukung seperti: menurut pendapat saya, menurut pandangan saya, sepertinya, umumnya, atau mungkin biasanya. Hal ini menerangkan bahwa tidak ada kepastian dari pernyataan yang subjektif itu. Dapat juga membuat orang berpikir ulang untuk mempercayai pernyataan tersebut.

Apakah Memahami Objektif dan Subjektif Diperlukan?

Memahami secara objektif. Dok: Zenius

Dalam ranah Sosiologi, objektif dan subjektif ini merupakan dua hal yang penting saat memandang sesuatu dalam permasalahan sosial. Sebab manusia adalah makhluk sosial, maka pertanyaan di atas dapat dijawab dengan, perlu.

Memahami objektif dan subjektif itu perlu, hal ini berkaitan dengan sikap yang akan elo ambil serta membentuk kerangka berpikir. Adapun perbedaan objektif dan subjektif adalah:

Objektif adalah sikap yang menyadari bahwa keberadaan kondisi sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari pengalaman hidup manusia itu sendiri. Nah, sikap ini digunakan untuk meneliti agar apa yang diuraikan sistematis dan sesuai fakta.

Subjektif adalah sikap yang berkaitan dengan keyakinan bahwa terdapat kondisi sosial tertentu yang berbahaya bagi masyarakat dan penting untuk diatasi. Oleh sebabnya, opini masuk ke dalam subjektivitas untuk membantu mengemukakan pendapat menuju kemufakatan.

Berpikir Secara Objektif atau Subjektif Salah atau Tidak?

Berpikir secara objektif atau subjektif. Dok: Zenius

Salah gak ya berpikir secara objektif atau subjektif? Untuk menjawab pertanyaan ini, elo sudah dapat gambaran mengenai apa yang dimaksud objektif dan subjektif, kan?

Lawan dari objektif adalah subjektif. Salah atau enggak berpikir secara subjektif atau objektif? Enggak ada yang salah, asal elo menempatkannya sesuai proporsi.

Kalau elo berpikir atau berpendapat secara subjektif, pendapat yang elo kemukakan berdasarkan penilaian individu. Sedangkan cara berpikir dan berpendapat yang lebih baik adalah yang bersifat objektif, karena lebih mengutamakan data serta realita yang ada.

Lalu Porsi yang Baik untuk Berpendapat Secara Objektif atau Subjektif Itu Kapan?

Ketika elo sedang membuat makalah tentang apakah bumi benar berbentuk bulat? Nah, dalam isi dari makalah tersebut elo wajib melampirkan data dan fakta-fakta yang dapat menegaskan bahwa bumi berbentuk bulat.

Dalam hal ini, elo gak bisa melontarkan pendapat dengan pilihan kata: mungkin bumi bulat; menurut saya bumi berbentuk bulat; bisa jadi ternyata bumi tidak datar. Kalimat tersebut opini elo yang tidak bisa dibuktikan faktanya. Jadi itu bukan merupakan objektivitas.

Contoh selanjutnya, ketika elo hadir di forum diskusi film. Kemudian elo komentar, menurut gue film ini bagus banget, gue merasa memiliki kedekatan khusus dengan tokoh utamanya. Elo ada di tempat yang tepat, elo boleh kemukakan pendapat yang bersifat subjektif di sini.

Pendapat subjektif biasanya mengedepankan emosional. Beda banget dengan pendapat objektif yang harus dilandasi kemampuan berpikir dan logika beserta fakta dan data.

Dalam kehidupan sehari-hari ada berbagai contoh yang berkaitan dengan sikap dan hal-hal yang objektif dan subjektif. Mungkin aja elo pernah melakukannya, atau orang terdekat kita deh orang tua.

Pasti elo pernah kan dibilang: anak ibu paling cantik atau ganteng. Nah, itu objektif atau subjektif ya? Perlu pembuktian lanjut ke masyarakat lebih luas. Hehehe…

Perbedaan objektif dan subjektif ini, kaitannya sangat erat dengan opini dan fakta. Coba deh elo sekarang cari tahu mengenai opini dan fakta, dengan klik tautan ini.

Oh iya Sobat Zenius, hal-hal lain yang penilaiannya bersifat subjektif adalah karya seni, kecantikan, makanan dan minuman. Hal tersebut berkaitan dengan penilaian pribadi dan seringkali melibatkan perasaan.

Sementara hal-hal yang bersifat objektif contohnya adalah karya ilmiah, penemuan, bencana, kecelakaan. Hal yang berkaitan dengan suatu hal yang pasti serta mengandung fakta.

Oke deh kalau begitu Sobat Zenius. Elo sekarang sudah tahu kan perbedaan objektif dan subjektif.