Latar Belakang dan Dampak Perjanjian Roem Royen – Materi Sejarah Kelas 11

Apa Itu Perjanjian Roem Royen?

Simpelnya, Perjanjian Roem Royen merupakan salah satu rangkaian perundingan yang dilaksanakan oleh Indonesia dengan pihak Belanda. Tempat Perundingan Roem Royen adalah Hotel Des Indes, Jakarta.

Perundingan ini merupakan kelanjutan dari Perjanjian Linggarjati pada tahun 1946 dan Perjanjian Renville pada 1948. Hasil dari perjanjian ini dilanjutkan ke Konferensi Meja Bundar (KMB) yang merupakan akhir dari perselisihan Belanda-Indonesia.

gambar perjanjian roem royen
Gambar perundingan Roem Royen (Dok. Arsip Nasional Republik Indonesia).

Pada Perundingan Roem Royen, masing-masing pihak punya usul. Pihak Indonesia mengusulkan akan menghentikan aksi gerilya—saat itu Indonesia nggak terima dengan Belanda yang membentuk negara boneka, akan melakukan kerjasama perdamaian dengan Belanda, dan akan berpartisipasi dalam persiapan KMB (Konferensi Meja Bundar).

Pihak Belanda juga memiliki usul, yaitu akan menghentikan aksi militer terhadap Indonesia, pihak Indonesia boleh kembali ke Yogyakarta, menyetujui Indonesia sebagai bagian dari RIS (Republik Indonesia Serikat), dan menjadi panitia KMB.

Nah, dari usulan-usulan tersebut ternyata banyak yang berhasil. Sehingga, isi Perundingan Roem Royen kurang lebih adalah sebagai berikut.

  1. Pihak Belanda dan Indonesia akan menghentikan pertempuran.
  2. Yogyakarta kembali ke tangan Indonesia setelah diduduki oleh Belanda.
  3. Mempersiapkan Konferensi Meja Bundar (KMB).
  4. Mempersiapkan Republik Indonesia Serikat (RIS).

Nah, dampak Perjanjian Roem Royen bagi Indonesia ternyata sangat besar dan baik lho, guys. Adanya perjanjian ini membuat Indonesia terasa terbang di atas awan mengalahkan Kerajaan Belanda.

Latar Belakang Perjanjian Roem Royen

Timeline Agresi Militer Belanda II hingga Perjanjian Roem Royen (Arsip Zenius).

Jadi gini, pada tanggal 1 Desember 1948, Belanda nggak lagi terikat dengan Perjanjian Renville. Secara sepihak ia memutuskan perjanjian tersebut. Buntutnya, pada tanggal 19 Desember di tahun yang sama, Belanda menyerang ibu kota Indonesia—saat itu masih di Yogyakarta dan berhasil merebut Yogyakarta. Peristiwa penyerangan ini dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II.

Nggak cukup sampai di situ, Belanda juga menangkap dan mengasingkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta ke Bangka. Tentu saja langkah Belanda tersebut dikecam dunia. Udah kelewatan banget deh pokoknya. Akhirnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan perintah kepada Indonesia dan Belanda untuk menghentikan operasi militer pada tanggal 24 Januari 1949.

Selain PBB turun tangan, Indonesia juga nggak mau diam aja. Pada 1 Maret 1949 terjadi Serangan Umum 1 Maret. Dari serangan tersebut, Indonesia menang dan Belanda harus mau melakukan perundingan lagi dengan Indonesia untuk melangkahkan kaki keluar dari Indonesia.

Sebuah badan bentukan PBB yang bernama UNCI (United Nations Commission for Indonesia) kemudian membawa delegasi dari pihak Belanda dan Indonesia ke meja perundingan pada tanggal 17 April 1949 yang selanjutnya menghasilkan Perjanjian Roem Royen sampai tanggal 7 Mei 1949.

Mau tau cerita selengkapnya? Yuk, langsung meluncur ke video belajar Zenius dengan klik banner di bawah ini!

Apa Tujuan Perjanjian Roem Royen?

Coba tebak, kapan Perundingan Roem Royen dilaksanakan? Gue udah ngasih clue di poin sebelumnya.

Yap, perundingan tersebut dilaksanakan pada tanggal 17 April—7 Mei 1949. Tujuannya untuk apa sih? Tujuan dari perundingan ini nggak lain adalah untuk mengatasi ketegangan pasca Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 dan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Delegasi dalam Perjanjian Roem Royen

Delegasi Perjanjian Roem Royen zenius education

Perundingan Roem Royen diawasi oleh Komisi PBB untuk Indonesia di bawah pimpinan Merle Cochran dari Amerika Serikat. Nah, untuk delegasi Indonesia dalam Perjanjian Roem Royen dipimpin oleh Muhammad Roem. Sedangkan delegasi dari pihak Belanda dipimpin oleh J. Herman van Roijen.

Di atas udah gue uraian kalau salah satu hasil perjanjian ini adalah pihak Belanda dan Indonesia sepakat untuk menghentikan perang dan bersedia melanjutkan perundingan di Den Haag yang dikenal dengan nama Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk mengatur proses penyerahan kedaulatan Indonesia secara penuh.