Proses Kedatangan Jepang ke Indonesia – Materi Sejarah Kelas 11

Proses Kedatangan Jepang ke Indonesia

Soekarno pada masa romusha pemerintahan Jepang
Soekarno pada masa romusha pemerintahan Jepang (Dok. Wikimedia Commons oleh Crisco 1492)

Dulu Jepang udah beberapa kali berperang sebelum menapakkan kaki di Indonesia. Tujuannya adalah ekspansi politik dan militer Jepang di wilayah Asia-Pasifik. Makanya mereka keliling-keliling nyari wilayah yang sekiranya bisa mereka takeover.

Kebetulan pada tahun 1941 daerah Indochina, tepatnya di Vietnam, sedang dalam kondisi vacuum of power atau kekosongan kekuasaan. Awalnya daerah tersebut diduduki Perancis, tapi karena mereka lagi ada masalah sama Nazi, akhirnya mereka harus mengungsi ke Inggris. Melihat situasi ini, akhirnya Jepang memutuskan untuk mengambil alih Indochina.

Tapi, ternyata ada yang gak suka dengan upaya Jepang memperluas wilayahnya di daerah tersebut–yaitu pihak Amerika Serikat. Dari sinilah terjadi keributan-keributan antara AS dengan Jepang, hingga berujung AS melarang akses (mengembargo) minyak kepada Jepang.

Wah ini gak oke banget dong, buat Jepang yang waktu itu orientasinya mau ekspansi imperialisme. Mereka bakal ada perang-perang lain yang harus dihadapi dan mereka juga ingin mengembangkan industri. Gimana mau jalan rencananya kalo akses ke bahan bakar minyaknya aja ditutup oleh Amerika Serikat? Keributan antara Jepang dan AS ini berujung ke penyerangan Pearl Harbor oleh Jepang.

Nah, di sinilah pertanyaan “Mengapa Jepang datang ke Indonesia?” terjawab. Karena hubungannya udah gak baik dengan AS, Jepang memutar otak, mencari-cari wilayah yang sekiranya bisa menyuplai bahan bakar minyak yang mereka butuhkan–salah satunya adalah Indonesia yang saat itu sedang dikuasai oleh Sekutu. Akhirnya, Jepang datang ke Indonesia pada tanggal 11 Januari 1942, tepatnya di Tarakan. Dari sana, satu persatu wilayah di Indonesia pun mulai dikuasai oleh Jepang.

Lo bisa nonton video penjelasan yang lebih mendetail tentang alasan Jepang datang ke Indonesia di sini.

Sambutan Rakyat Indonesia Terhadap Kedatangan Jepang

Seperti yang udah gue sebutin sebelumnya, Indonesia waktu itu masih dijajah oleh Sekutu. Nah, kedatangan Jepang ke Indonesia ini mulai menggoyahkan kekuasaan Sekutu. Jepang terus mengambil wilayah-wilayah kekuasaan Sekutu di Indonesia hingga mereka tersudut.

Akhirnya pada Maret 1942, Jepang mengadakan perundingan dengan Sekutu dan memberikan ultimatum bagi Sekutu untuk menyerah tanpa syarat terhadap Jepang. Setelah itu, wilayah Hindia-Belanda yang dulunya merupakan wilayah jajahan Sekutu, menjadi berada di bawah kekuasaan Jepang. Perjanjian ini disebut Perjanjian Kalijati.

Pada awal mulanya, kedatangan Jepang disambut baik oleh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia mikir, wah ini Jepang udah berhasil mengusir Sekutu, orang-orang yang selama ini udah bikin hidup rakyat Indonesia sengsara karena dijajah.  Selain itu, Jepang juga mengeluarkan sebuah propaganda yang menunjukkan simpati mereka terhadap rakyat Indonesia, yang membuat rakyat Indonesia membatin, “Udah ngebebasin kita dari si Belanda, eh sekarang ngejanjiin kemerdekaan, ya kali gak kuy?”

Kuniaki Koiso Zenius
Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso Menjanjikan Kemerdekaan bagi Indonesia di 1944 (Dok. Wikimedia Commons)

Jepang mengaku sebagai Hakko Ichiu, yakni saudara tua Indonesia.  Kemudian, mereka juga meluncurkan Gerakan 3A: Jepang cahaya Asia, Jepang pemimpin Asia, dan Jepang pelindung Asia. Pernyataan ini membuat rakyat Indonesia percaya, dengan kekuatan Jepang saat itu, mereka bisa menjadi penolong bagi Asia. Jepang jadi kelihatan bak pahlawan banget, apalagi Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso, pada tanggal 7 September 1949, menjanjikan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia.

Jepang juga terlihat seperti memberikan simpati terhadap seluruh pergerakan yang dilakukan oleh Indonesia untuk mencapai kemerdekaan–sampai membiarkan pemakaian Bahasa Indonesia dan bendera merah putih. Bahkan nih ya, mereka dulu memberikan kemudahan gitu bagi Indonesia dengan membentuk berbagai organisasi seperti PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), Chuo Sangi In (Badan Pertimbangan Pusat), dan Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa).

Perlakuan Jepang terhadap Indonesia yang seperti ini, berhasil menggaet perhatian beberapa tokoh nasional Indonesia seperti Soekarno, Hatta, dan Suwardi Suryaningrat. Tapi, tetap ada beberapa tokoh yang curiga sama Jepang, seperti Sam Ratulangi, H.M Thamrin, dan Soetarjo. Masa iya sih, ada negara asing tau-tau aja mau nolongin Indonesia? Hmm, pasti ada apa-apanya, nih!

Timbulnya Kebencian Rakyat Indonesia Terhadap Jepang

Dibalik “pertolongan” yang diberikan oleh Jepang kepada rakyat Indonesia, ada alasan yang terselubung. Dari awal kita udah tau, ya, mereka ke Indonesia itu pertama-tama karena butuh stok minyak bumi.

Selain itu, mereka juga ingin berjualan dan mengembangkan industri mereka. Tapi, untuk hal-hal seperti propaganda untuk mendapatkan hati para tokoh nasional, dilakukan semata-mata untuk mendapat dukungan politik. Perlu diingat ya, waktu itu Jepang juga sedang dalam misi memperluas wilayah kekuasaan, mematangkan persiapan untuk peperangan yang akan datang.

Mengapa kedatangan Jepang pada akhirnya menimbulkan kebencian rakyat Indonesia? Karena dari awal mereka mungkin kelihatannya Jepang seperti membawa masa yang lebih baik bagi Indonesia setelah dijajah Belanda, tapi lama-kelamaan, perlakuan mereka mulai sewenang-wenang terhadap rakyat Indonesia dengan adanya gerakan-gerakan yang mengeksploitasi rakyat.

Gerakan romusha, atau tenaga kerja paksa, mengumpulkan para laki-laki secara paksa melalui romukyokai (panitia yang mengumpulkan orang-orang untuk dijadikan romusha). Kemudian mereka dikirimkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat hingga para pekerja berakhir dalam kondisi yang buruk–mati atau menghilang.